Jumat, 29 Maret 2013

Sudah lebih dari 15 bulan saya tinggal di negara usmani ini. Dan baru tadi selesai sholat jumat pikiran saya sedikit terbuka. Baru sadar bahwa di kumpulan jamaah sholat jumat di negara ini tak ada suara riang makmum-makmum kecil seperti ketika berada di tanah air dulu. Tak ada suara cekikikan anak kecil ketika mengambil air wudhu, berebut masuk masjid, bercanda gurau yang kadang mengganggu konsentrasi ketika mendengarkan khotbah jumat. Yang ada hanyalah puluhan amca-amca (sebutan paman bagi lelaki yang sudah tua) lansia dan beberapa anak muda. Kemanakah hilangnya serdadu-serdadu jihat muda ini?

Ternyata oh ternyata, pada jam-jam seperti ini (sholat dhuhur) kegiatan belajar-mengajar di hampir seluruh sekolah negeri (devlet okul) masih berlangsung. Baik ilk okul (sd), lise okul (sma), maupun universite (perguruan tinggi) tidak memberi toleransi kepada muridnya untuk pergi ke masjid menunaikan ibadah sholat jum'at yang hukumnya wajib bagi pria. Hanya ada beberapa sekolah swasta yang mengijinkan murid-muridnya untuk pergi sembahyang atau menghentikan aktivitas sekolah untuk sholat berjamaah dilingkungan sekolah. Untuk mahasiswa jadwal kuliah yang tidak bertabrakan dengan waktu sholat jumat merupakan suatu nikmat tersendiri, saya adalah salah satu yang diberi nikmat itu. Kalau yang jadwalnya bertabrakan maka dia harus berani mengambil pilihan antara kuliah atau sholat jumat..itupun jikalau tidak dibatasi oleh devamsizlik (batas tidak lulus akibat absen). Maka nikmat Tuhan manalagi yang patut saya dustai.

Betapa beruntungnya saudara muslim di Indonesia ketika hari jumat sekolah diakhirkan lebih awal, sekitar jam 11 siang agar siswa-siswanya bisa mempersiapkan diri menunaikan ibadah wajib ini. Dengan tenang bisa mendengarkan khotbah jumat tanpa perlu risau menghitung sisa kesempatan absensi kuliah. 

Ah, hati ini rindu riang suara mujahid-mujahid kecil dimasjid :)

Comments

Popular posts from this blog

istanbul, autumn, and me (part 2)

ISCIU

Puisi tanpa rima