Abieb Agabey, Bang Toyib-nya Turki (late post)
Yak, sudah tiga kali tabuh bedug lebaran menggema di tahun yang berbeda tanda sudah tiga lebaran aku tak berada di pangkuan ibu pertiwi. Sedih? Iya. Galau? Enggak sih, cuma GALAU BANGET!
Sudah tiga puasa gak bisa sahur bareng ibu dan adik, gak bisa berangkat tarawih bareng, jalan-jalan usai subuh bersama teman satu kampung. Sudah tiga lebaran gak takbiran di masjid kesayangan di kampung, gak bisa langsung bertatap muka sungkem sama bapak ibu, juga secara otomatis gagal untuk berkunjung ke rumah eyang untuk cari THR (mahasiswa :D). Mungkin jika bang toyyib benar-benar ada dan sudah ditemukan keberadaannya serta kembali kepada keluarga yang ditinggalkannya, dia harus ikhlas memberikan gelarnya ke saya. Mungkin (mungkin lho ya) nantinya akan ada kisah Abieb Agabey (mas Abieb), bang toyyib dari Turki.
Tapi galau harus hilang di hari yang besar ini. Sejenak galau harus disimpan dulu di dalam hati paling dalam untuk merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Ya, hari Idul Fitri ini patut dan sudah seharusnya kita rayakan dengan hati yang gembira serta penuh syukur kepada Allah swt. Tepat setelah bangun tidur semua kegalauan sudah bisa ditinggalkan sejenak, lalu bersiap-siap untuk ke Masjid Al Fatih bersama teman-teman. Di pagi yang cerah itu, semua rasa sedih benar-benar saya tinggalkan di rumah. Kita sampai Masjid Al Fatih setengah jam sebelum sholat ditunaikan. Setelah sholat kita sempatkan sejenak untuk ziarah kubur di makam Sultan Muhammad Al Fatih, Sultan Usmani yang menaklukkan Konstantinopel (Istanbul di jaman dulu). Selesai itu kita pergi menuju Konsulat Jendral Republik Indonesia yang berada di daerah Eyyub, mampir sejenak ke Eyyub Camii untuk ziarah ke makam sahabat rasulullah Abu Ayyub Al Anshori ra, salah satu dari makam sahabat rasulullah yang berada di Istanbul. Di KJRI kita disambut oleh puluhan pelajar dan masyarakat Indonesia yang juga telah hadir disana. Dalam acara open house di KJRI ini lumayan banyak jenis makanan lebaran yang bisa ditemukan di kampung halaman. Lumayan merasakan atmosfer berlebaran di Indonesia.
Sampai disini kesedihan tidak bisa merayakan lebaran di kampung benar-benar hilang, lebaran dengan rekan rantau senasib pun tak kalah serunya. Keluarga di Istanbul ini serasa menggantikan peran keluarga dirumah. Karena memang terkadang bukan seseorang yang kita rindu melainkan momen bersama orang itulah yang sangat kita rindukan. Bersama kita mengobrol, tukar cerita, makan lontong lebaran (yang baru saya temui pertama kali selama tiga tahun di Turki), main dan banyak lainnya.
Ingin lebaran tahun depan seperti ini lagi, namun lebih ingin lagi untuk bisa pulang dan berkumpul bersama keluarga.
Yine de Ramazan Bayraminiz Mubarek Olsun :)
Sudah tiga puasa gak bisa sahur bareng ibu dan adik, gak bisa berangkat tarawih bareng, jalan-jalan usai subuh bersama teman satu kampung. Sudah tiga lebaran gak takbiran di masjid kesayangan di kampung, gak bisa langsung bertatap muka sungkem sama bapak ibu, juga secara otomatis gagal untuk berkunjung ke rumah eyang untuk cari THR (mahasiswa :D). Mungkin jika bang toyyib benar-benar ada dan sudah ditemukan keberadaannya serta kembali kepada keluarga yang ditinggalkannya, dia harus ikhlas memberikan gelarnya ke saya. Mungkin (mungkin lho ya) nantinya akan ada kisah Abieb Agabey (mas Abieb), bang toyyib dari Turki.
Tapi galau harus hilang di hari yang besar ini. Sejenak galau harus disimpan dulu di dalam hati paling dalam untuk merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Ya, hari Idul Fitri ini patut dan sudah seharusnya kita rayakan dengan hati yang gembira serta penuh syukur kepada Allah swt. Tepat setelah bangun tidur semua kegalauan sudah bisa ditinggalkan sejenak, lalu bersiap-siap untuk ke Masjid Al Fatih bersama teman-teman. Di pagi yang cerah itu, semua rasa sedih benar-benar saya tinggalkan di rumah. Kita sampai Masjid Al Fatih setengah jam sebelum sholat ditunaikan. Setelah sholat kita sempatkan sejenak untuk ziarah kubur di makam Sultan Muhammad Al Fatih, Sultan Usmani yang menaklukkan Konstantinopel (Istanbul di jaman dulu). Selesai itu kita pergi menuju Konsulat Jendral Republik Indonesia yang berada di daerah Eyyub, mampir sejenak ke Eyyub Camii untuk ziarah ke makam sahabat rasulullah Abu Ayyub Al Anshori ra, salah satu dari makam sahabat rasulullah yang berada di Istanbul. Di KJRI kita disambut oleh puluhan pelajar dan masyarakat Indonesia yang juga telah hadir disana. Dalam acara open house di KJRI ini lumayan banyak jenis makanan lebaran yang bisa ditemukan di kampung halaman. Lumayan merasakan atmosfer berlebaran di Indonesia.
Sampai disini kesedihan tidak bisa merayakan lebaran di kampung benar-benar hilang, lebaran dengan rekan rantau senasib pun tak kalah serunya. Keluarga di Istanbul ini serasa menggantikan peran keluarga dirumah. Karena memang terkadang bukan seseorang yang kita rindu melainkan momen bersama orang itulah yang sangat kita rindukan. Bersama kita mengobrol, tukar cerita, makan lontong lebaran (yang baru saya temui pertama kali selama tiga tahun di Turki), main dan banyak lainnya.
Ingin lebaran tahun depan seperti ini lagi, namun lebih ingin lagi untuk bisa pulang dan berkumpul bersama keluarga.
Yine de Ramazan Bayraminiz Mubarek Olsun :)
![]() |
| bersama setelah ziarah makam Abu Ayyub Al Anshori ra |

Comments
Post a Comment