Aku Pernah Membenci Istanbul (part 2)
...
Panggung Balai Sartika menjadi dipenuhi ketegangan di masa-masa pengumuman juara penyisihan Olimpiade Bahasa Turki untuk Indonesia. Satu persatu kategori diumumkan, ada berurai air mata kebahagiaan ada juga senyum penuh luka. Ha, pertama kali aku merasakan atmosfer panggung pencarian bakat yang sering ku tonton dari televisi. Begini tha rasanya. Dan untungnya untuk cabang tari diumumkan terakhir, hingga semakin tegang saja dibuatnya. Pembawa acaranya pun tak kalah menyebalkan dengan berlama-lama dalam membacakan pengumumannya. Tak taulah dia kami sudah lelah berdiri sejak lebih dari setengah jam lamanya. Oke, sampai pada pengumuman terakhir ternyata kami memenangkan tiket ke Turki. Ya, sepuluh berandal dari kampung ini menjadi juara satu dan berkesempatan mengikuti Olimpiade Bahasa Turki tingkat Internasional di negara asalnya. Sujud syukur secara refleks serempak kami panjatkan.
Eh, sebentar. Aku harusnya tidak boleh gembira. Bukan seharusnya aku pergi ke Turki. Bahkan harusnya aku tak menangi saja penyisihan ini. Pergi ke Turki berarti aku tidak bisa mengikuti olimpiade sains tingkat provinsi yang sangat kuinginkan dari kelas satu. Kenapa jadwal keduanya harus bersamaan? Apa tidak bisa diundur sehari saja? Kenapa aku menang? Kenapa aku ikut tim tari ini? Banyak pertanyaan mengiringi kencangnya bus yang membawa kami pulang ke kabupaten Sragen tempat asal kami.
Hanya satu jawaban yang kutemukan waktu itu. Ada konspirasi dari Istanbul. Agar aku tidak ikut olimpiade tingkat provinsi. Agar tidak menang dan melaju ke nasional. Agar tidak ke ajang International Geoscience Olimpiade. Agar niatku membuktikan keberdaan con-Thorium di selat Bosphorus itu hanya isu belaka tak tercapai. Bahwa di bawah selat Bosphorus tidak ada apa-apa kecuali lapisan batu belaka. Oke, sepertinya sudah terlalu jauh aku melayang dalam lamunan. Toh akhirnya aku masih terdampar di kasur empuk dalam hangatnya buaian selimut kala angin musim dingin mulai menerpa kota Bursa. Bukannya harusnya hari ini aku berada di Semarang, mengerjakan soal-soal ilmu bumi yang mulai kusukai sejak ku tahu biologi bukanlah bidangku. Konspirasi dingin musim gugur dan hangatnya selimut ternyata mampu hantarkan ku dalam mimpi menemukan con-Uranium di kebun belakang rumah.
...
Mengingat cerita ini bikin senyum kembali mendarat di bibir. Kok bisa aku dulu membenci Istanbul. Bahkan walau pernah aku membencinya dia tetap menerimaku dan ramah padaku tiga tahun ini. Dia tahu aku sedan marah maka dikirimkan hujan untuk padamkan api emosi. Dia tahu aku kesepian maka kirim matahari untuk hangatkan hati.
Aku juga merasa berdosa kepada sembilan sahabatku karena tak sepenuh hati berangkat ke Turki kala itu untuk berlomba bersama, mengibarkan bendera merah putih di bumi Anadolu. Hanya karena ambisi pribadiku sendiri. Ya, dalam tulisan ini aku menuliskan permintaan maaf secara terbuka untuk mereka semua. Semoga ketika membacanya mereka dapat memaklumi. :)

Comments
Post a Comment