Aku Pernah Membenci Istanbul


Istanbul, siapapun pasti jatuh cinta pada kota ini sejak kala pertama memandang. Sultan Ahmet Camii (Blue Mosque) bersanding dengan mesranya dengan kecantikan Hagia Sophia. Di atas kapal., seberangi Bosphorus yang dengan birunya pisahkan Asia dan Eropa, hingga kokohnya Bosphorus Bridge menyatukan kedua benua itu kembali. Keramahan Amca di kedai teh, mengajak kita berlama-lama melarutkan lelah dalam seteguk cay dalam lekukan seksi gelas mini. Macetnya jalan ketika sore, menambah panjang obrolan dengan calon gebetan yang sering mampir di mimpi.  Dan lain-lain, dan lain-lain. Tak habis untuk di cerita memang. Namun siapa sangka kalau 4 tahun dulu Istanbul pernah tinggalkan luka.

Adalah aku, remaja 17 tahun yang kala itu tengah absen dari kelas dengan dalih persiapan olimpiade sains level kota. Sebulan sebelum ajang bergengsi tahunan tingkat SMA ini dihelat sekola kami mulai mengintensifkan semua tim nya agar mendapatkan hasil yang maksimal di tingkat kota, lalu provinsi, sampai melesat ke Medan yang kala itu menjadi tuan rumah. Aku sendiri bergabung dalam tim Geosains, cabang olimpiade tentang ilmu bumi. Ini tahun kedua sekaligus tahun terakhirku mengikuti olimpiade ini, tahun depan sudah saatnya fokus untuk ujian nasional, dan memang menurut regulasi hanya siswa kelas 1 dan 2 saja yang berhak mengikuti kegiatan ini. Singkatnya sebulan kemudian kami memulai perang di kota untuk menembus level provinsi. Seminggu setelahnya, apa yan ku tunggu akhirnya tiba. Berita kelolosanku untuk mengikuti olimpiade tingkat provinsi. Makin sering juga aku meninggalkan kelas, bersama 22 teman lainnya. Ya, dari total 24 kursi ke provinsi sekolahku berhasil menggelontorkan 23 muridnya. Semakin melambungkan nama SMA yang baru saja mulai hidup 2 tahun yang lalu. Semakin melancarkan promosi sekolah di mana-mana

Di kehidupan yang lain, aku adalah seorang anak desa yang bermimpi untuk pergi keluar negri. Bersama 9 anak lainnya kami merupakan tim tari yang juga tengah mempersiapkan diri untuk berebut tiket ke Turki mengikuti ajang olimpiade bahasa turki. Salah satu cabang yang dilombakan adalah  tarian rakyat Turki. Olimpiade Bahasa Turki atau dalam versi aslinya Uluslararasi Turkce Olimpiyatlari ini adalah salah satu ajang untuk memperkenalkan bahasa dan budaya negara Turki ke dunia luas dengan menggelar lomba bahasa dan budaya untuk sekolah-sekolah yang berafiliasi dengan yayasan lokal asal negara dua benua ini. Salah satunya adalah sekolahku. sebuah ide yang bagus untuk ajang promosi budaya. Mungkin kalau nanti aku jadi Mentri Kebudayaan dan Pariwisata akan ku adakan acara yang serupa.

Oke, kembali lagi ke latihan yang sudah kami lakukan setahun akhir ini untuk membalas kekalahan tahun lalu hingga dipencundangi jadi runner up dan kehilangan tiket ke Turki. Kali ini sepuluh berandal ini yakin bisa meninggalkan jejak alas kaki di bumi fatih, Istanbul. Semua persiapan sudah final untuk kembali unjuk kemampuan di Jakarta bersaing dengan "sekolah-sekolah turki' lainnya. Hingga akhirnya kita sampai di Jakarta dan aku dapat kabar yang kurang mengenakkan. Bukan tentang kita didiskualifikasi karena terlalu ganteng, bukan. Kita cuma anak dekil dari sma di kampung. Bukan pula karena kostum hitam ditambah tarian perang yang buat anak kecil tak henti menangis ketika kami mulai menari. Kami sudah berusaha tersenyum semanis mungkin walau terkadang malah nampak tak serasi dengan ritme musik yang gahar.

bersambung...

Comments

Popular posts from this blog

istanbul, autumn, and me (part 2)

ISCIU

Puisi tanpa rima