Tahun Baru di Turki

jembatan bosphorus ramai di malam pergantian tahun
Teh pertama tahun ini dituang pada jam 1 dini hari setelah kami pulang dari perayaan tahun baru. Perayaan yang diluar kebiasaan menurutku. Jika umumnya tahun baru dirayakan di alun-alun kota, di jalan raya, maupun tempat ramai lainnya maka kami merayakannya di sekolah. Jika umumnya tahun baru diiringi suara terompet, petasan, ataupun kembang api maka kami melewatinya dengan mendengar lantunan ayat suci Al-Quran , lantunan nasyid khas negara ustmaniyah dan bacaan shalawat kepada Kanjeng Nabi Sayyidina Muhammad. Tanpa mengunggulkan yang satu dari lainnya saya memilih untuk berada di dalam hangatnya ruang konferensi Fatih Koleji. Dibandingkan jika harus berada di luar dengan ramainya orang berdesakan demi melihat kembang api, belum ditambah dingin udara Istanbul dua hari terakhir ini.



Acara perayaan tahun baru yang agak unik ini dimulai jam 8 malam, diawali dengan pembacaan Al-Quran. Lantunan ayat suci berkumandang di seluruh penjuru ruangan. Syahdu. Kemudian acara dilanjutkan dengan mendengarkan "ilahi" atau nasyid Turki, dengan iringan instrumen biola, gendang, ne (alat tiup khas turki) dan bağlama. Ada sekitar satu jam telinga saya dimanjakan oleh puji-pujian yang dibawakan.

Menjelang jam 10 malam giliran pertunjukan teater ditampilkan. Drama teater ini menceritakan kisah seorang pemuda turki bernama Ali yang sebentar lagi akan menyelesaikan kuliahnya namun ingin pergi ke Rumania untuk mengajar agama Islam disana. Ia dalam keadaan bimbang antara menyelesaikan kuliah atau hijrah ke Rumania. Ketika sudah bulat tekadnya untuk pergi giliran restu dari orangtua yang tak didapat. Belum lagi dengan kekasihnya yang menurut rencana mereka akan melangsungkan pernikahan segera setelah ia lulus kuliah. Ali tak gentar, semangatnya untuk mengajarkan agama Allah menguatkannya untuk meninggalkan orang-orang yang dikasihi. Segera ia pergi menuju ke tanah rantau bersama sepupunya Hairi. Disana ia bertemu dengan keluarga turki yang sangat baik dan membantunya selama berada d Rumania, bahkan kepala keluarga itu menawarkan Ali untuk menjadi guru di salah satu sekolah swasta. Mengajarkan Islam bukan hal yang mudah, begitu juga yang dialami oleh Ali. Berpuluh pintu rumah diketuk, ratusan kali orang diundang namun tak ada yang mau mengindahkan ajakan Ali. Sempat ia berniat untuk kembali ke Istanbul. Dia merasa telah gagal. Namun dorongan dari sepupunya dan orang sekitar membawa semangatnya kembali. Didukung dengan datangnya sang kekasih hati menyusulnya hingga ke Rumania. Dakwah menemukan jalannya. Lalu ketika hendak melangsungkan pernikahan ia tertidur dalam sholat. Disana Ali bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Dan ia pun meninggal dalam sujudnya bertemu dengan kekasih sejatinya Allah SWT. Drama teater ini pub ditutup dengan tangisan dari mempelai wanita dan senyuman dari Ali.

Menjelang pergantian tahun kembali grup musik nasyid turki tampil di panggung. Mengajak kami semua menghaturkan sholawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad. Hingga selesai lalu dilanjutkan dzikir dan wirid. Mungkin ini adalah perayaan tahun baru terbaik sepanjang hidup saya. Menutup tahun lama dan membuka lembaran baru dengan kebaikan. Agar kebaikan senantiasa menhampiri kita di hari mendatang. Wallahua'lam
posted from Bloggeroid

Comments

Popular posts from this blog

istanbul, autumn, and me (part 2)

ISCIU

Puisi tanpa rima