Teh Pertama di 2014

Post sebelum post ini ditujukan untuk merekam teh pertama di tahun 2014 ini. Namun malah berujung pada cerita pergantian tahun. Memang nasib penulis jadi-jadian. Atau istilah "jadi-jadian" sebenarnya belum pantas disematkan pada saya. Karena sudah ada dua kata "jadi" disana. Mungkin yang lebih pantas adalah "penulis belum jadi" atau "penulis setengah jadi". Ada banyak pertarungan ide sehingga sering sekali apa yang
diinginkan untuk ditulis berbeda dengan akhir jadi dari tulisan tersebut. Dan ah, belum-belum pembahasan saya sudah menyimpang (lagi) entah kemana.

Oke, memakai istilah Tukul Arwana, "Kembali ke Laptop". Saya harus membawa kembali anda sekalian ke tujuan awal post ini. Menceritakan pengalaman teh pertama saya di tahun 2014.


Sekembalinya kami dari perayaan tahun baru kemarin, kami pulang menuju rumah sekitar jam setengah satu dini hari. Sampai rumah hampir jam 1. Salah satu teman yang berasal dari kota Adana berinisiatif membuatkan kami teh untuk menghangatkan badan setelah kedinginan diluar. Dan teh pertama tahun ini diiringi alunan gitar yang saya mainkan atas pesanan dari salah satu teman. Dari 6 orang yang ada dikamar kami hanya saya yang bisa memainkan gitar, dan walhasil saya "dipaksa" untuk bermain gitar sepanjang malam.

Lagu favorit malam itu berjudul Isyan, yang dipopulerkan oleh Halil Sezai. Sama seperti lagu mainstream lainnya berkisah tentang sebuah penghianatan cinta. Kira-kira beginilah lirik lagunya jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

Benim bu derdim
(Inilah kesedihanku)
Ne yağan yağmurda
(Bukan tentang rintik hujan)
Ne yalancı sonbaharda
(Atau musim gugur penuh dusta)
Ne bomboş sokaklarda
(Juga bukan jalanan yang kosong)

Kırılmış her yanım
(Semua yang didekatku musnah)
Kayıp olur zaman
(Waktu yang hilang)
Saçlarımda
(Rambut memutih)
Gözlerim sokaklarda
(Mataku tertuju ke jalanan)
Sebebi isyan aşkım
(Sebabnya pemberontakan, sayang)

Içim yanar içim kanar
(Hati ini terbakar, oleh minyak darah)
Isyan
(Kerusuhan hati)
Geriye bir avuç yalan
(Hanya kebohongan tersisa)
Benim bu derde sen attın da
(Kau buang aku dalam kesedihan ini)
Gittin ya kafam hep duman
(Kepergianmu sisakan kekosongan di otak ku)

jika penasaran dengan lagunya bisa dilihat disini

Dan cangkir demi cangkir teh dini hari kemarin dimaniskan oleh gula-gula pemberontakan dan kerusuhan hati. Atau menurut bahasa intelek Vicky "Kudeta Hati". Lalu bagaimana dengan teh anda?
posted from Bloggeroid

Comments

Popular posts from this blog

istanbul, autumn, and me (part 2)

ISCIU

Puisi tanpa rima