Senja di Sultanahmet
sebuah senja di pelataran sultanahmet setelah jenuh dalam sesak jaman tramvay istanbul yang selalu ramai menempel-nempel bagai sarden manusia dipaksa masuk dalam kaleng berjalan lalu keringat cipta aroma wangi asam hingga kaleng terbuka hampir habis cadangan nafas sejak halte sebelumnya dan aku harus berevolusi jadi manusia istanbul lainnya menarik nafas dalam-dalam disimpan ke paru-paru cadangan lalu terbukalah pintu pembebasan dari sumpeknya 2 menit perjalanan hingga sang masjid biru nampak di pelupuk mata mengayun lengan menaranya sampaikan salam selamat datang anak manusia dengan silir angin hapuskan mual di rasa berganti nuansa reliji sampai surgawi ah, darimana juga aku tau itu surga? entahlah, yang jelas kamu tersipu malu kala ku memandangmu dan waktu juga terasa membeku tak mau maju hingga mata saling bertemu beradu namun tetap dalam bisu merayu lidah kelu tak mau berkata oh Ayasofya, sampai kapan kau biarkan ku termangu mengagumimu? sumber : g...