Senja di Sultanahmet
sebuah senja di pelataran sultanahmet
setelah jenuh dalam sesak jaman
tramvay istanbul yang selalu ramai
menempel-nempel bagai sarden manusia
dipaksa masuk dalam kaleng berjalan
lalu keringat cipta aroma wangi asam
hingga kaleng terbuka
hampir habis cadangan nafas sejak halte sebelumnya
dan aku harus berevolusi jadi manusia istanbul lainnya
menarik nafas dalam-dalam
disimpan ke paru-paru cadangan
lalu terbukalah pintu pembebasan
dari sumpeknya 2 menit perjalanan
hingga sang masjid biru nampak di pelupuk mata
mengayun lengan menaranya sampaikan salam
selamat datang anak manusia
dengan silir angin hapuskan mual di rasa
berganti nuansa reliji sampai surgawi
ah, darimana juga aku tau itu surga?
entahlah, yang jelas kamu tersipu malu
kala ku memandangmu
dan waktu juga terasa membeku tak mau maju
hingga mata saling bertemu beradu
namun tetap dalam bisu merayu
lidah kelu tak mau berkata
oh Ayasofya, sampai kapan kau biarkan ku termangu mengagumimu?
setelah jenuh dalam sesak jaman
tramvay istanbul yang selalu ramai
menempel-nempel bagai sarden manusia
dipaksa masuk dalam kaleng berjalan
lalu keringat cipta aroma wangi asam
hingga kaleng terbuka
hampir habis cadangan nafas sejak halte sebelumnya
dan aku harus berevolusi jadi manusia istanbul lainnya
menarik nafas dalam-dalam
disimpan ke paru-paru cadangan
lalu terbukalah pintu pembebasan
dari sumpeknya 2 menit perjalanan
hingga sang masjid biru nampak di pelupuk mata
mengayun lengan menaranya sampaikan salam
selamat datang anak manusia
dengan silir angin hapuskan mual di rasa
berganti nuansa reliji sampai surgawi
ah, darimana juga aku tau itu surga?
entahlah, yang jelas kamu tersipu malu
kala ku memandangmu
dan waktu juga terasa membeku tak mau maju
hingga mata saling bertemu beradu
namun tetap dalam bisu merayu
lidah kelu tak mau berkata
oh Ayasofya, sampai kapan kau biarkan ku termangu mengagumimu?
![]() |
| sumber : google |

Comments
Post a Comment