Posts

Showing posts from 2014

Senja di Sultanahmet

Image
sebuah senja di pelataran sultanahmet setelah jenuh dalam sesak jaman tramvay istanbul yang selalu ramai menempel-nempel bagai sarden manusia dipaksa masuk dalam kaleng berjalan lalu keringat cipta aroma wangi asam hingga kaleng terbuka hampir habis cadangan nafas sejak halte sebelumnya dan aku harus berevolusi jadi manusia istanbul lainnya menarik nafas dalam-dalam disimpan ke paru-paru cadangan lalu terbukalah pintu pembebasan dari sumpeknya 2 menit perjalanan hingga sang masjid biru nampak di pelupuk mata mengayun lengan menaranya sampaikan salam selamat datang anak manusia dengan silir angin hapuskan mual di rasa berganti nuansa reliji sampai surgawi ah, darimana juga aku tau itu surga? entahlah, yang jelas kamu tersipu malu kala ku memandangmu dan waktu juga terasa membeku tak mau maju hingga mata saling bertemu beradu namun tetap dalam bisu merayu lidah kelu tak mau berkata oh Ayasofya, sampai kapan kau biarkan ku termangu mengagumimu? sumber : g...

mendengar malam

mendengarkan malam bersama rembulan sedang mendayu menggelantung di atap langit sendu merayu dalam pilu lalu bintang bergugur satu lambat beranjak seribu tertinggal gelap dalam kalbu malam terlalu lama bertamu kala pagi masih bermain bersama mentari di dalam buaian ibu pertiwi

Diujung jalan

Image
lalu sampailah jiwa pada persimpangan diri ada yang kanan juga yang kiri dimana akal kan bawa kaki atau hanya berlari ikuti naluri lalu bilakah gamang langkah ini siapakah tuan yang bisa bimbing bimbangnya diri  dalam pencarian jati?

Gadis Penari Hujan

Image
siang ini hujan turun pelan seakan tak mau mengakhiri perjumpaannya dengan bumi. sejuk sayup rintik turunnya walau kutahu dalam hati memekik rindu setelah lama tak turun sepanjang kemarau. anak-anak berlari sehabis pulang sekolah. mencari atap untuk berteduh. mereka tak mau mereka berbasah-basah, sebab takut diomeli ibunya ketika nanti sampai dirumah. "besok kamu mesti pakai seragam ini lagi", begitu kata kebanyakan ibu. ibu juga berlari kearah jemuran baju mereka, sayang jika nanti basah lagi. selain anak ternyata banyak bapak maupun calon bapak berlarian. harus mengejar rapat katanya, ada lagi yang bilang dikejar deadline. ah, sejatinya mereka sedang dikejar tagihan kartu kredit istri mereka. semua mengeluh pada hujan. tapi diantara ibu, bapak, dan anak sekolah tadi, ada gadis kecil yang menengadahkan wajahnya ke langit, menjemput titik-titik rindu milik hujan, seraya tersenyum kepada Tuhan-Nya. menari dan bernyanyi bersama hujan. tak tahu apa itu seragam, jemuran, atau t...

Bilakah

Bilakah ku menjelma tetes-tetes embun Bolehkah ku menetes ditepi jurang hatimu Dan mengisi sampai ke palungnya Menggenang hingga menenggelamkanmu dalam buaiannya Bilakah ku menguap menjadi awan Lalu ku turun menemuimu sebagai hujan Sudikah kau membasahi dirimu denganku Bersama menari seirama rintiknya Dalam alunan nada rindu Ataukah kamu tak tahan derasnya Dan memilih berteduh ke rumah lain yang lebih hangat

Tentang Sejarah Kimia

Jadi kemarin itu ceritanya aku harus berjuang menembus hujan kota Istanbul yang sebenarnya gak deras-deras amat, cuma yaa dinginnya itu lho yang menusuk, apalagi belum ada tangan yang hangat untuk digenggam. Apalagi hari ini hanya ada 2 jam kuliah, tapi yaa demi menuntut ilmu badai pun gaakan mampu menghalangi ku untuk bolos  kuliah. Singkatnya sampai ke kelas nii, di dalam kelas udah penuh sesak dengan 4 makhluk disana, ada ibu dosen dan 3 mahasiswa lainnya. Kalo ditambah, lengkap lah formasi power rangers ini. Hmm, kenapa hanya sedikit yang datang ke kelas ini ya, tanyaku dalam diam. Usut punya usut memang untuk mata kuliah ini, Sejarah Kimia, memang sedikit peminatnya. Karena mungkin menurut kebanyakan mahasiswa disini Sejarah Kimia tidak terlalu penting untuk nanti setelah lulus dan bekerja, toh hanya belajar sejarah yang udah lewat dan gak ada formula-formula baru yang berguna dimasa depan. Setidaknya itu yang kupahami dari apa yang disampaikan ibu dosen kala beliau memberika...

Sadap Menyadap

Image
disini sadap disana sadap sadap menyadap biar makin sedap di timur sana bapak disadap tetangga di sini bapak disadap anak-anaknya anak-anak bapak yang iri tidak dapat jajan seperti anak yang disadap bapak juga salah hanya ngasih jajan satu anak padahal ia punya beribu anak coba bapak adil sama anak dia tidak akan tersadap sadap makin sedap kata bapak itu gossip murahan juga kata paman itu sadap hasil mengarang dan bapak memotong kabel telepon sadap bikin sarap anak-anak juga ikut sadap-sadapan tak boleh ikut ke pasar malam bertemu bapak tukang sulap yang bikin besi jadi pesawat anak-anak ribut sadap memang sedap lalu di rumah timur pakdhe juga menyadap dibawanya arit dan botol akua pakdhe nggak perlu telepon untuk menyadap dia pakai ilmu dalam dari dalam pohon ia sadap sadap sampai kering

Sajak Singkat Tentang Rindu

Hai apa kabar? Kabarnya aku rindu Kamu? Aku juga rindu Ternyata kita sama Dulu kita sama, bersama Iya Hanya iya? Iya begitu Ah, kau sama saja Iya, aku sama Juga rasa ini sama Iya Iya

Resensi Buku "SoÄŸuk Kahve"

Image
Judul Buku                   : Soguk Kahve Pengarang                   : Ahmet Batman Penerbit                      : Destek Yayinlari Bahasa                        : Bahasa Turki Tahun Terbit                : 2013 Jumlah Halaman           : 224 halaman Harga                          : 15 TL “Belki kitabin ayni sayfasinda aglamissiz, iste bu haberimiz olmadigi halde dunyanin en guzel karsilasmasi olabilir"

Istanbul'da Sonbahar

Image
Musim gugur singgah di Istanbul Pepohonan mulai menguningkan daun-daunnya Hujan perlahan basahi jalan Bawa kesejukan hingga dingin menusuk tulang Minggu musim gugur, kala gerimis belum selesai Bisikkan senandung kalbu Dan pergi lagi Sisakan basahnya Tak lupa dingin yang melekat erat  Nikmati hujan musim gugur Dengan alunan teoman Berkisah indahnya konstantinopel modern Menjelma jadi kota metropolis Sarat dengan sejarah besarnya Dengan ramai insannya Sebait lagu tentang rindu Bukan rindu yang sendu Tak juga sampai kelabu Rindu yang menggebu Namun tak pilu Istanbul’da sonbahar Menemani cangkir çay Adalah kürabiye rasa jeruk Ditengah hujan Yang merindu pada tanah abu Ah, burda olsan çok güzel hala

El Veda

Image
lalu harus dibuang kemana rasa meluap di dalam ini ruang yang hampa semenjak elveda  semudah itu kah jalan keluar padahal lorong ini lebih rumit dari gang-gang kecil sirkeci-eminonu lalu aku merasa benteng-benteng topkapi  masih menang kokoh dari bendungan kegalauan kalbu disebelahnya ayasofya tak nampak lagi pesona indahnya senyap sepi  menjerit dalam bisu bak sisa-sisa mozaik yang melekat erat-erat di dinding kenangan istanbul tua bagai langit yang hendak digapai menara-menara  yang disambung adzan dari toa-nya masih tak bisa mendekat walau sejengkal hanya masih seperti gerimis kemarin sisakan genangan rindu kenangan yang tak kunjung kering dan kasih yang belum selesai

Aku Pernah Membenci Istanbul (part 2)

Image
... Kami dapat medali perak dalam cabang tari di Olimpiade Bahasa Turki tersebut. Tari dari daerah Artvin atau masyarakat Turki menyebutnya Artvin Yoresi berhasil membawa kami sampai Turki bahkan mengalungkan medali perak ke leher kami. Suka cita mewarnai kota Bursa malam itu. Semua diliputi kebahagiaan kecuali aku, ya, cuma aku. Ternyata medali perak dan berpuluh pujian tak mampu penuhi hatiku yang hampa. Rasanya seperti punya banyak gebetan tapi tidak bisa move on dari mantan. Entah darimana aku bisa merasa seperti itu, padahal kala itu jangankan mantan, pacarku saja hanya kesendirian. Malam itu rasanya lama sekali, kalau tidak karena rasa capek yang luar biasa mungkin sampai pagi mata ini tak mau tertutup. Pikiran kembali berjalan mundur ke 3 bulan yang lalu. Panggung Balai Sartika menjadi dipenuhi ketegangan di  masa-masa pengumuman juara penyisihan Olimpiade Bahasa Turki untuk Indonesia. Satu persatu kategori diumumkan, ada berurai air mata kebahagiaan ada juga senyum...

Aku Pernah Membenci Istanbul

Image
Istanbul, siapapun pasti jatuh cinta pada kota ini sejak kala pertama memandang. Sultan Ahmet Camii (Blue Mosque) bersanding dengan mesranya dengan kecantikan Hagia Sophia. Di atas kapal., seberangi Bosphorus yang dengan birunya pisahkan Asia dan Eropa, hingga kokohnya Bosphorus Bridge menyatukan kedua benua itu kembali. Keramahan Amca di kedai teh, mengajak kita berlama-lama melarutkan lelah dalam seteguk cay dalam lekukan seksi gelas mini. Macetnya jalan ketika sore, menambah panjang obrolan dengan calon gebetan yang sering mampir di mimpi.  Dan lain-lain, dan lain-lain. Tak habis untuk di cerita memang. Namun siapa sangka kalau 4 tahun dulu Istanbul pernah tinggalkan luka. Adalah aku, remaja 17 tahun yang kala itu tengah absen dari kelas dengan dalih persiapan olimpiade sains level kota. Sebulan sebelum ajang bergengsi tahunan tingkat SMA ini dihelat sekola kami mulai mengintensifkan semua tim nya agar mendapatkan hasil yang maksimal di tingkat kota, lalu provinsi, sampa...

Teh Pertama di 2014

Image
Post sebelum post ini ditujukan untuk merekam teh pertama di tahun 2014 ini. Namun malah berujung pada cerita pergantian tahun. Memang nasib penulis jadi-jadian. Atau istilah "jadi-jadian" sebenarnya belum pantas disematkan pada saya. Karena sudah ada dua kata "jadi" disana. Mungkin yang lebih pantas adalah "penulis belum jadi" atau "penulis setengah jadi". Ada banyak pertarungan ide sehingga sering sekali apa yang diinginkan untuk ditulis berbeda dengan akhir jadi dari tulisan tersebut. Dan ah, belum-belum pembahasan saya sudah menyimpang (lagi) entah kemana. Oke, memakai istilah Tukul Arwana, "Kembali ke Laptop". Saya harus membawa kembali anda sekalian ke tujuan awal post ini. Menceritakan pengalaman teh pertama saya di tahun 2014.

Tahun Baru di Turki

Image
jembatan bosphorus ramai di malam pergantian tahun Teh pertama tahun ini dituang pada jam 1 dini hari setelah kami pulang dari perayaan tahun baru. Perayaan yang diluar kebiasaan menurutku. Jika umumnya tahun baru dirayakan di alun-alun kota, di jalan raya, maupun tempat ramai lainnya maka kami merayakannya di sekolah. Jika umumnya tahun baru diiringi suara terompet, petasan, ataupun kembang api maka kami melewatinya dengan mendengar lantunan ayat suci Al-Quran , lantunan nasyid khas negara ustmaniyah dan bacaan shalawat kepada Kanjeng Nabi Sayyidina Muhammad. Tanpa mengunggulkan yang satu dari lainnya saya memilih untuk berada di dalam hangatnya ruang konferensi Fatih Koleji. Dibandingkan jika harus berada di luar dengan ramainya orang berdesakan demi melihat kembang api, belum ditambah dingin udara Istanbul dua hari terakhir ini.